Efek Pemberitaan Corona di Sejumlah daerah



Jika ada siswa atau staf di Indonesia terkena, sekolah tidak akan diliburkan

Pemerintah telah mengeluarkan protokol cegah penyebaran virus corona untuk diterapkan di institusi pendidikan.
Pemerintah Indonesia menyatakan tidak akan meliburkan sekolah dan universitas jika ada staf atau siswa yang terkena virus corona (Covid-19).

Salah satu protokol yang diumumkan pada hari Jumat oleh Kemendikbud adalah larangan sekolah dan kampus untuk menghentikan aktivitas meski ada stafnya yang terjangkit Covid-19.

Sejumlah negara memutuskan untuk meliburkan sekolah dan universitas untuk menekan wabah virus corona antara lain India, Jepang, dan Italia.

Seperti apa gejala Covid-19, bagaimana penjelasan dokter soal penyebaran dan penyembuhan di tengah meningkatnya kasus di Indonesia

Langkah lain yang diumumkan pemerintah adalah penyediaan sarana cuci tangan dan imbauan kepada peserta didik dan pendidik untuk istirahat di rumah jika menunjukkan gejala-gejala penyakit Covid-19 seperti demam, batuk, pilek, dan gangguan pernafasan.

Meski demikian, tidak semua sekolah telah menyediakan sabun cuci tangan bagi siswa-siswanya.
Sekolahnya juga tidak memiliki thermal gun untuk mengukur suhu tubuh anak-anak.

Panic buying terjadi di kota-kota besar


Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Roy Mandey, mengakui terjadi aksi belanja secara tidak wajar setelah pemerintah menyatakan ada dua WNI yang dipastikan terkena virus corona.

Dari catatan Roy, panic buying terjadi di enam kota besar. Dimulai dari Jakarta dan merembet sampai ke Semarang, Surabaya, dan Bali.

Akan tetapi tak semua toko swalayan di Ibu Kota diserbu pembeli.

Lonjakan pembelian pada Senin itu, menurut Roy, berkisar antara 10-15%. Meski klaimnya, tidak signifikan tapi beberapa barang seperti masker, gel pembersih tangan, disinfektan, mi instan, dan bahan pangan lainnya habis.

Pengumuman kehabisan stok masker dipasang di sebuah toko farmasi di Kuala Lumpur. Sejumlah toko farmasi di Kuala Lumpur Malaysia kehabisan stok masker sehubungan wabah virus corona.
Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, yang turut hadir dalam konferensi pers itu hanya bisa mengimbau masyarakat agar tidak panik. Sebab panic buying bakal merugikan masyarakat dan mendorong ketidakstabilan harga dan pasokan.

Karena itulah, ia menyarankan untuk berbelanja secara wajar.

"Pemerintah mengimbau untuk tidak panic buying karena pasokan barang saat ini cukup, jadi masyarakat diminta hati-hati dalam berbelanja. Silakan belanja sesuai kebutuhan," ujar Menteri Agus Suparmanto."

Ketika BBC bertanya apa langkah pemerintah jika situasi serupa terjadi, Menteri Agus, mengatakan 'tidak ada'. Pun tak ada rencana untuk membatasi pembelian seandainya ada aksi borong.

Sementara khusus untuk masker yang saat ini kian langka di sejumlah toko swalayan, Agus lagi-lagi mengimbau produsen agar memprioritaskan kebutuhan dalam negeri dan menyarankan pedagang tak menaikkan harga.

Padahal menurut Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI), pemerintah sudah saatnya mengambil alih distribusi masker dan menyediakan secara gratis di tempat-tempat umum.

Jika itu tidak dilakukan, akan menimbulkan kesan ketidakpercayaan kepada pemerintah.